waskitho

MASALAH DAN STRATEGI PEMBERDAYAAN PENGENTASAN KEMISKINAN DI BIDANG USAHA KECIL

A. Latar Belakang

Tidak dapat dipungkiri bahwa industrialisasi di Indonesia sejak Pelita I hingga saat ini telah mencapai hasil yang diharapkan. Setidaknya industrialisasi telah mengakibatkan transformasi struktural di Indonesia. Pola pertumbuhan ekonomi secara sektoral di Indonesia agaknya sejalan dengan kecenderungan proses transformasi struktural yang terjadi di berbagai negara, di mana terjadi penurunan kontribusi sektor pertanian (sering disebut sektor primer), sementara kontribusi sektor sekunder dan tersier cenderung meningkat.

Dalam konstelasi semacam ini, bisa dipahami mengapa terjadi dualisme dan lemahnya keterkaitan industri kecil dengan industri besar. Dualisme ini muncul karena orientasi industrialisasi berbasis pada modal besar dan teknologi tinggi, namun kurang berdasar atas kekuatan ekonomi rakyat (Kuncoro, 1995). Pengalaman Taiwan, sebagai perbandingan, justru menunjukkan ekonominya dapat tumbuh pesat karena ditopang oleh sejumlah usaha kecil dan menengah yang disebut community based industry Keterkaitan yang eratantara si besar dan si kecil lewat program subcontracting terbukti mampu menciptakansinergi yang menopang perekonomian 

Sejak tahun 1983, pemerintah secara konsisten telah melakukan berbagai upaya deregulasi sebagai upaya penyesuaian struktural dan restrukturisasi perekonomian. Kendati demikian, banyak yang mensinyalir deregulasi di bidang perdagangan dan investasi tidak memberi banyak keuntungan bagi perusahaan kecil dan menengah; bahkan justru perusahaan besar dan konglomeratlah yang mendapat keuntungan. Studi empiris membuktikan bahwa pertambahan nilai tambah ternyata tidak dinikmati oleh perusahaan skla kecil, sedang, dan besar, namun justru perusahaan skala konglomerat, dengan tenaga kerja lebih dari 1000 orang, yang menikmati kenaikan nilai tambah secara absolut maupun per rata-rata perusahaan (Kuncoro & Abimanyu, 1995).

B. Pembahasan

Ada dua definisi usaha kecil yang dikenal di Indonesia. Pertama, definisi usaha kecil menurut Undang-Undang No. 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang memiliki hasil penjualan tahunan maksimal Rp 1 milyar dan memiliki kekayaan bersih, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, paling banyak Rp 200 juta (Sudisman & Sari, 1996: 5). Kedua, menurut kategori Biro Pusat Statistik (BPS), usaha kecil identik dengan industri kecil dan industri rumah tangga. BPS mengklasifikasikan industri berdasrakan jumlah pekerjanya, yaitu: (1) industri rumah tangga dengan pekerja 1- 4 orang; (2) industri kecil dengan pekerja 5-19 orang; (3) industri menengah dengan pekerja 20-99 orang; (4) industri besar dengan pekerja 100 orang atau lebih (BPS, 1999: 250).

Menurut Anas Hidayat (1994) Kendati beberapa definisi mengenai usaha kecil namun agaknya usaha kecil mempunyai karakteristik yang hampir seragam. Pertama, tidak adanya pembagian tugas yang jelas antara bidang administrasi dan operasi. Kebanyakan industri kecil dikelola oleh perorangan yang merangkap sebagai pemilik sekaligus pengelola perusahaan, serta memanfaatkan tenaga kerja dari keluarga dan kerabat dekatnya. Data BPS (1994) menunjukkan hingga saat ini jumlah pengusaha kecil telah mencapai 34,316 juta orang yang meliputi 15, 635 juta pengusaha kecil mandiri (tanpa menggunakan tenaga kerja lain), 18,227 juta orang pengusaha kecil yang menggunakan tenaga kerja anggota keluarga sendiri serta 54 ribu orang pengusaha kecil yang memiliki tenaga kerja tetap. Kedua, rendahnya akses industri kecil terhadap lembaga-lembaga kredit formal sehingga mereka cenderung menggantungkan pembiayaan usahanya dari modal sendiri atau sumber-sumber lain seperti keluarga, kerabat, pedagang perantara, bahkan rentenir. Ketiga, sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainya status badan hukum. Menurut catatan BPS (1994), dari jumlah perusahaan kecil sebanyak sebanyak 124.990, ternyata 90,6 persen merupakan perusahaan perorangan yang tidak berakta notaris; 4,7 persen tergolong perusahaan perorangan berakta notaris; dan hanya 1,7 persen yang sudah mempunyai badan hokum. Keempat, dilihat menurut golongan industri tampak bahwa hampir sepertiga bagian dari seluruh industri kecil bergerak pada kelompok usaha industri makanan, minuman dan tembakau, diikuti oleh kelompok industri barang galian bukan logam.

Memang cukup berat tantangan yang dihadapi untuk memperkuat struktur perekonomian nasional. Pembinaan pengusaha kecil harus lebih diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pengusaha kecil menjadi pengusaha menengah. Namun disadari pula bahwa pengembangan usaha kecil menghadapi beberapa kendala seperti tingkat kemampuan, ketrampilan, keahlian, manajemen sumber daya manusia, kewirausahaan, pemasaran dan keuangan. Menurut Simatupang dkk (1994) Lemahnya kemampuan manajerial dan sumberdaya manusia ini mengakibatkan pengusaha kecil tidak mampu menjalankan usahanya dengan baik. Secara lebih spesifik, masalah dasar yang dihadapi pengusaha kecil adalah: (1), Lelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar. (2) Kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbatasan untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan. (3) Kelemahan di bidang organisasi dan manajemen sumber daya manusia. (4) Keterbatasan jaringan usaha kerjasama antar pengusaha kecil (sistem informasi pemasaran). (5) Iklim usaha yang kurang kondusif, karena persaingan yang saling mematikan. (6) Pembinaan yang telah dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya kepercayaan serta kepedulian masyarakat terhadap usaha kecil.

Menurut Loekman Soetrisno (1995), Strategi pemberdayaan yang telah diupayakan selama ini dapat diklasifikasikan dalam:

  1. Aspek managerial, yang meliputi: peningkatan produktivitas/omset/tingkat utilisasi/tingkat hunian, meningkatkan kemampuan pemasaran, dan pengembangan sumberdaya manusia.
  2. Aspek permodalan, yang meliputi: bantuan modal (penyisihan 1-5% keuntungan BUMN dan kewajiban untuk menyalurkan kredit bagi usaha kecil minimum 20% dari portofolio kredit bank) dan kemudahan kredit
  3. Mengembangkan program kemitraan dengan besar usaha baik lewat sistem Bapak- Anak Angkat, PIR, keterkaitan hulu-hilir (forward linkage), keterkaitan hilir-hulu (backward linkage), modal ventura, ataupun subkontrak.
  4. Pengembangan sentra industri kecil dalam suatu kawasan apakah berbentuk PIK (Pemukiman Industri Kecil), LIK (Lingkungan Industri Kecil), SUIK (Sarana Usaha Industri Kecil) yang didukung oleh UPT (Unit Pelayanan Teknis) dan TPI (Tenaga Penyuluh Industri).
  5. Pembinaan untuk bidang usaha dan daerah tertentu lewat KUB (Kelompok Usaha Bersama), KOPINKRA (Koperasi Industri Kecil dan Kerajinan).

Harus diakui telah cukup banyak upaya pembinaan dan pemberdayaan usaha kecil yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang concern dengan pengembangan usaha kecil.  Hanya saja, upaya pembinaan usaha kecil sering tumpang tindih dan dilakukan sendiri-sendiri. Menurut Gunawan Sumodiningrat (1994) Perbedaan persepsi mengenai usaha kecil ini pada gilirannya menyebabkan pembinaan usaha kecil masih terkotak-kotak atau sector oriented, di mana masing-masing instansi pembina menekankan pada sektor atau bidang binaannya sendiri- sendiri. Akibatnya terjadilah dua hal: (1) ketidakefektifan arah pembinaan; (2) tiadanya indikator keberhasilan yang seragam, karena masing-masing instansi pembina berupaya mengejar target dan sasaran sesuai dengan kriteria yang telah mereka tetapkan sendiri. Karena egoisme sektoral/departemen, dalam praktek sering dijumpai terjadinya “persaingan” antar organisasi pembina. Bagi pengusaha kecil pun, mereka sering mengeluh karena hanya selalu dijadikan “obyek” binaan tanpa ada tindak lanjut atau pemecahan masalah mereka secara langsung.

Tabel 1. Lembaga-lembaga pendukung pengembangan Usaha Kecil (UK)

No Lembaga Pendukung Peran yang Dilakukan Program/Intervensi
1 Deperin Perumusan kebijakan pengembangan,

implementasi program, dan

penyediaan fasilitas

  • Pendidikan dan pelatihan
  • Penelitian dan pengembangan tekno
  • produksi melalui R & D
  • Pelayanan teknis melalui UPT
  • Pelayanan informasi & konsultasi
  • Perantara UK dengan Bapak angkay
2 Depdikbud
  • Peningkatan SDM melalui semua
  • jalur: formal, informal, dan nonformal
  • Konsep link dan match antara dunia
  • pendidikan dengan dunia usaha Orientasi pendidikan sangat bias
    • Program magang
    • Pelatihan melalui pendidikan
masyarakat

  • Pembinaan kursus-kursus informal
  • Perhatian terfokus pada usaha

menengah-besar-formal, belum ada

program yang berorientasi pada UK

3 Depnaker
  • Pembinaan dan penempatan tenaga kerja
  • Perumusan kebijakan ketenagakerjaan
  • Pelatihan melalui BLK
  • Pengembangan pusat informasi
  • Penetapan KUM dan monitoringnya
  • Pengembangan usaha kecil dan usaha mandiri lebih ditujukan mengatasi penganggur ketimbang

pengembangan usaha itu sendiri

4 Depsos Pembinaan UK sebagai bagian dari

upaya pengentasan kemiskinan

Pelatihan-pelatihan
5 Bappenas
  • Perencanaan dan pengawasan

pembangunan dengan titik berat pada pengentasan kemiskinan

  • Mekanisme kontrol terhadap lembaga pelaksana IDT sangat lemah
  • Pemetaan desa miskin
  • Inpres Desa Tertinggal (IDT) dengan orientasi penggunaan dana untuk kegiatan produktif
6 Pemda bersama

Bappeda & Dinas Tata

Kota

  • Pengaturan perizinan usaha
  • Pengaturan tata kota
  • Penyediaan fasilitas tempat usaha (sentra atau pusat perdagangan)
  • Lokalisasi UK seringkali sangat merugikan karena memisahkan UK dari sistem sosial yang ada
7 Lembaga Swasta &

peroranga

Peningkatan SDM melalui pendidikan

dan latihan

  • Pengembangan SDM
  • Perantara dalam pasar kerja
8 LSM
  • Lembaga pelayanan alternatif bagi usaha kecil yang berfungsi sebagai lembaga perantara untuk menjembatani keterbatasan pemerintah dan swasta dalam menjangkau usaha kecil
  • Sangat berpotensi menjadi partner UK karena kedekatan hubungannya dengan UK
  • Koordinasi antar LSM maupun lembaga pendukung lainnya sangat minim
  • Lingkup kerja terbatas, serta ada ketergantungan finansial dan teknisi ahli yang akan mengancam keberlanjutan lembaga
  • Pengembangan berbagai kelompok
swadaya masyarakat

  • Pelatihan teknis produksi dan pengelolaan/administrasi
  • Penelitian dan konsultasi
  • Intervensi efektif hanya dalam

wilayah kerjanya

  • Masih belum menjangkau kelompok usaha kecil yang betul-betul marginal
9 Asosiasi Pengusaha

Kecil

Idealnya asosiasi seperti ini terlibat

langsung dalam negosiasi, perumusan

kebijakan, monitoring, dan evaluasi

  • Pengorganisasian pengusaha kecil harus dibangun dengan tujuan spesifik dan dikaitkan dengan pemberdayaan
  • Distribusi informasi

C. Kesimpulan

Implikasinya, agaknya sudah saatnya diperlukan reorientasi prinsip kemitraan Jalinan kemitraan harus didasarkan atas prinsip sinergi, yaitu saling membutuhkan dan saling membantu. Menurut Bachruddin  dkk (1996) Prinsip saling membutuhkan akan menjamin kemitraan berjalan lebih langgeng karena bersifat “alami” dan tidak atas dasar “belas kasihan”. Berlandaskan prinsip ini, usaha besar akan selalu mengajak usaha kecil sebagai partner in progress. Yang terjadi di lapangan adalah: (1) pembinaan yang diberikan bapak angkat dirasakan kurang efektif karena bapak angkat bagaikan sinterklas yang membagi dana pembinaan tanpa peduli dengan dinamika bisnis anak angkatnya; (2) Bapak Angkat pun merasakan kemitraan yang terjalin hanyalah sekadar memenuhi misi sosial. Prinsip saling membantu akan muncul apabila usaha besar memang membutuhkan kehadiran usaha kecil.

Jelas, dengan kemitraan pola subkontrak dan dagang semacam ini tidak ada superioritas dan inferioritas; yang ada hanya mutual relationship, saling membantu karena adanya hubungan proses produksi yang saling menguntungkan. Apabila kedua prinsip kemitraan tersebut diterapkan, maka kemitraan bukan lagi “barang mewah” di Indonesia, namun akan menjadi “barang kebutuhan” sebagaimana lazimnya hubungan bisnis yang lain

DAFTAR PUSTAKA

Abimanyu, Anggito (1994), “Orientasi Usaha dan Kinerja Bisnis Konglomerat”, makalah dalam Seminar Nasional “Mencari Keseimbangan Antara Konglomerat dan Pengusaha Kecil-Menengah di Indonesia: Permasalahan dan Strategi”, Dies Natalis STIE Widya Wiwaha, Yogyakarta, 30 April.

Bachruddin, Zaenal, Mudrajad Kuncoro, Budi Prasetyo Widyobroto, Tridjoko Wismu Murti, Zuprizal, Ismoyo (1996), Kajian Pengembangan Pola Industri Pedesaan Melalui Koperasi dan Usaha Kecil, LPM UGM dan Balitbang Departemen Koperasi & PPK, Yogyakarta.

BPS. (1999). Statistical Yearbook of Indonesia 1998. Biro Pusat Statistik, Jakarta.

Hidayat, Anas (1994), “Analisis Perkembangan Industri kecil Berdasarkan Penyusunan Indeks Produktivitas dan Tingkat Efisiensinya di Daerah Istimewa Yogyakarta”, Jurnal Ekonomi, vol.3, Juni, h. 36-51.

Kuncoro, Mudrajad (2000a), The Economics of Industrial Agglomeration and Clustering, 1976-1996: the Case of Indonesia (Java), disertasi Ph.D, Department of Management, University of Melbourne, Melbourne, tidak dipublikasikan.

Kuncoro, Mudrajad dan Anggito Abimanyu (1995), “Struktur dan Kinerja Industri Indonesia dalam Era Deregulasi dan Debirokratisasi”, Kelola (Gadjah Mada University Business Review), no.10/IV/1995.

Simatupang, Pantjar, M.H. Togatorop, Rudy P. Sitompul, Tulus Tambunan (eds.) (1994), Prosiding Seminar Nasional Peranan Strategis Industri Kecil dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II, UKI-Press, Jakarta.

Soetrisno, Loekman (1995), “Membangun Ekonomi Rakyat Melalui Kemitraan: Suatu Tinjauan Sosiologis”, makalah dalam Diskusi Ekonomi Kerakyatan, Hotel Radisson, Yogyakarta, 5 agustus.

Sudisman, U., & Sari, A. (1996). Undang-Undang Usaha kecil 1995 dan Peraturan Perkoperasian. Jakarta: Mitrainfo.

Sumodiningrat, Gunawan (1994), “Tantangan dan Peluang Pengembangan Usaha Kecil”, Jurnal Tahunan CIDES, no.1, h.157-164.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: