waskitho

STRATEGI DAN AKSI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN BERSASARAN DI PROPINSI DIY

Oleh : Waskitho

WASKITHO, Alumni Jurusan Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Menamatkan pendidikan sarjananya tahun 2009. Sekarang sedang menempuh Program Magister Ilmu Pemerintahan pada Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa ”APMD” Yogyakarta

Email : waskitho87@yahoo.co.id

  1. A. Pendahuluan

Di tengah upaya untuk semakin menajamkan program penanggulangan kemiskinan di Indonesia perlu dicari metode evaluasi dan monitoring yang tepat agar kualitas pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan menjadi semakin baik di masa datang. Dengan indikator-indikator yang obyektif dan terukur para pengambil keputusan menjadi lebih mudah melakukan perbaikan-perbaikan dari berbagai segi agar program penanggulangan kemiskinan menjadi lebih berkelanjutan (sustainable) dan tidak bersifat charity. Dengan demikian kegagalan suatu program di masa lalu bukan berarti telah gagal dalam segala aspeknya sehingga harus diganti dengan program baru. Pengalaman selama ini menunjukkan kecenderungan bahwa jika program dianggap telah gagal berarti program itu sudah tidak perlu diingat-ingat lagi, dan perlu program baru untuk mengganti program lama.

Kasus ini merupakan suatu evaluasi program penanggulangan kemiskinan di Yogyakarta secara kuantitatif. Program penanggulangan kemiskinan yang dievaluasi meliputi program Inpres Desa tertinggal (IDT), Program Pengembangan Kecamatan (PPK), dan Proyek Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP), yang dikategorikan sebagai Program Kerja Mandiri (Self Employment Program), dan Proyek Pembangunana Fisik dalam program PPK yang dikategorikan sebagai Program Padat Karya (Public Work Progam)

  1. B. Rumusan Masalah

Dari pendahuluan di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah : Sejauh mana kemajuan yang dirasakan kelompok dan masyarakat dapat dijadikan ukuran pembanding dari manfaat yang diterima individu?

  1. C. Teori Yang Digunakan
    1. 1. Kemiskinan

Hall dan Midgley (2004:14), menyatakan kemiskinan dapat didefenisikan sebagai kondisi  deprivasi materi dan sosial yang menyebabkan individu hidup di bawah standar kehidupan yang layak, atau kondisi di mana individu mengalami deprivasi relatif dibandingkan dengan individu yang lainnya dalam masyarakat. John Friedman, kemiskinan didefenisikan sebagai  ketidaksamaan  kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuasaan sosial. Basis kekuasaan sosial meliputi (tidak terbatas pada) modal yang produktif atau assets (misalnya tanah, perumahan, peralatan, kesehatan, dan lainnya) sumber-sumber keuangan, organisasi sosial danm politik  yang dapat digunakan untuk mencapai  kepentingan bersama, jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang-barang; pengetahuan, keterampilan yang memadai dan informasi yang berguna (Richard Quinney,. 1979).

Syaifuddin (2007), membagi  cara berpikir yang memandang kemiskinan sebagai gejala absolut; dan, sebagai gejala relatif.  Cara berfikir (model) mengenai kemiskinan sebagai gejala absolut memandang kemiskinan sebagai kondisi serba berkekurangan materi, hanya memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki sarana untuk mendukung kehidupan sendiri. Cara pandang relativistik ini terdiri atas dua cara pandang, yakni cara pandang (model) kebudayaan, dan cara pandang (model) struktural.  Kemudian, bermula pada tahun 1990an, terjadi perkembangan baru dalam pendekatan terhadap kemiskinan, yakni memandang kemiskinan sebagai proses. Pendekatan proses mengenai kemiskinan baru saja dikenal di Indonesia. Untuk sebagian besar, pendekatan yang digunakan di ruang ilmiah maupun praktis masih didominasi pendekatan kebudayaan dan struktural sebagaimana dibicarakan di atas.

Pentingnya menjelaskan kemiskinan dari perspektif Pembangunan Sosial ini dilatarbelakangi oleh dua alasan. Pertama, karena kemiskinan adalah tercerabutnya hak-hak dasar masyarakat, seperti akses pada pendapatan, pendidikan, dan kesehatan. Sehingga perlu dipahami bahwa kemiskinan bukan hanya faktor pemicu kejahatan namun kemiskinan adalah kejahatan itu sendiri. Kedua, penjelasan atas kemiskinan akan memperjelas faktor struktural yang memunculkan kemiskinan itu sendiri. Berbeda dari penjelasan stuktural makro yang selama ini digunakan, yang melihat kemiskinan sebagai masalah individual. Faktor struktural ini terutama adalah peran Negara dan Swasta (bisnis) sebagai stakeholder yang memilik akses terbesar terhadap sumber daya stuktural dan politik.

Kemiskinan di Indonesia menunjukkan angka yang memprihatinkan dari tahun ke tahun seperti sebuah aksi gali lubang tutup lubang yang tak berkesudahan. Sebuah fenomena yang tampaknya tidak mau berpindah dari persoalan negara dunia ketiga. Bahkan ini merupakan persoalan yang sangat krusial yang menentukan pergerakan sebuah negara menuju derajat keberhasilan pembangunan ke arah yang lebih maju.

Menurut James C. Scott dikutip dalam tulisan Gregorius Sahdan dalam mengatakan bahwa; Dalam negara yang salah urus, tidak ada persoalan yang lebih besar, selain persoalan kemiskinan. Kemiskinan telah membuat jutaan anak-anak tidak bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas, kesulitan membiayai kesehatan, kurangnya tabungan dan tidak adanya investasi, kurangnya akses ke pelayanan publik, kurangnya lapangan pekerjaan, kurangnya jaminan sosial dan perlindungan terhadap keluarga, menguatnya arus urbanisasi ke kota, dan yang lebih parah, kemiskinan menyebabkan jutaan rakyat memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan secara terbatas. Kemiskinan, menyebabkan masyarakat desa rela mengorbankan apa saja demi keselamatan hidup, safety life (James C.Scott, 1981).

  1. 2. Pemberdayaan

Sunyoto Usman (2003) mengungkapkan bahwa pembangunan yang dilakukan oleh suatu negara pada saat ini tidak akan dapat lepas dari pengaruh globalisasi yang melanda dunia. Persolan politik dan ekonomi tidak dapat lagi hanya dipandang sebagai persoalan nasional. Keterkaitan antar negara menjadi persoalan yang patut untuk diperhitungkan. Masalah ekonomi atau politik yang dihadapi oleh satu negara membawa imbas bagi negara lainnya dan permasalahan tersebut akan berkembang menjadi masalah internasional.

Menurut Soejadi (2001), kemiskinan merupakan salah satu masalah yang selalu dihadapi oleh manusia. Kemiskinan dapat didefinisikan sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Standar kehidupan yang rendah ini secara langsung tampak pengaruhnya terhadap tingkat keadaan kesehatan, kehidupan moral, dan rasa harga diri dari mereka yang tergolong sebagai orang miskin. Di negara-negara sedang berkembang, wacana pemberdayaan muncul ketika pembangunan menimbulkan disinteraksi sosial, kesenjangan ekonomi, degradasi sumber daya alam, dan alienasi masyarakat dari faktor produksi oleh penguasa (Prijono, 1996).

Menurut Maria Fraskho, (2000), konsep pemberdayaan lahir sebagai antitesis terhadap model pembangunan dan model industralisasi yang kurang memihak pada rakyat mayoritas. Konsep ini dibangun sebagai kerangka logik sebagai berikut; (1). Proses pemusatan  kekuasaan terbangunan dari pemusatan penguasaan faktor produksi; (2). Pemusatan kekuasaan faktor produksi akan melahirkan masyarakat pekerja dan masyarakat pengusaha pinggiran; (3). Keuasaan akan membangun bangunan atas atau sistem pengetahuan, sistem politik, sistem hukum dan ideologi yang manipulatif, untuk memperkuat legitimasi; (4). Kooptasi sistem pengetahuan, sistem hukum sistem politik dan ideologi, secara sistematik akan menciptakan dua kelompok masyarakat, yaitu masyarakat berdaya dan masyarakat tunadaya. Akhirnya yang terjadi adalah dikotomi, yaitu masyarakat yang berkuasa dan disisi lain manusia dikuasai. Untuk membebaskan situasi menguasai dan dikuasai, maka harus dilakukan pembebesan melalui proses pemberdayaan bagi yang dikuasai (empowerment of the powerless).

Menurut John Friedman (1991), Pemberdayaan dapat diartikan sebagai perolehan kekuatan dan akses terhadap sumber daya untuk mencari nafkah. Bahkan dalam perspektif ilmu politik, kekuatan menyangkut pada kemampuan untuk mempengaruhi orang lain. Istilah pemberdayaan sering dipakai untuk menggambarkan keadaan seperti yang diinginkan oleh individu, dalam keadaan tersebut masing-masing individu mempunyai pilihan dan kontrol pada semua aspek kehidupannya. Menurut Sastroputo Santoso, (1998), konsep ini merupakan bentuk penghargaan terhada manusia atau dengan kata lain “memanusiakan manusia”. Melalui pemberdayaan akan timbul pergeseran peran dari semula “korban pembangunan” menjadi “pelaku pembangunan”. Perpektif pembangunan memandang pemberdayaan sebagai sebuah konsep yang sangat luas. Pearse dan Stiefel dalam Prijono (1996) menjelaskan bahwa pemberdayaan partisipatif meliputi menghormati perbedaan, kearifan lokal, dekonsentrasi kekuatan dan peningkatan kemandirian.

  1. D. Analisis
    1. Peningkatan Pendapatan

Peningkatan pendapatan merupakan indikator penting untuk menilai keberhasilan program bagi penduduk miskin. Konsep yang digunakan adalah untuk mengukur pendapatan rumah tangga peserta program setelah mengikuti program dengan pendapatan sebelum program. Dalam perhitungan ini juga dimasukkan faktor perubahan harga dengan menggunakan Indek Harga Konsumen untuk menilai pendapatan yang lalu dengan nilai sekarang.

Tabel 1. Indikator Pendapatan

Program Inpres Desa Tertinggal dapat meningkatkan pendapatan keluarga penduduk miskin peserta program dengan nilai income indicatornya sebesar 0,364, yang berarti bahwa setelah pelaksanaan program IDT selama 8 tahun pendapatan peserta IDT meningkat rata-rata sebesar 36,4%. Nilai ini berkaitan dengan dua hal, pertama pendapatan peserta IDT meningkat karena keberhasilan dalam usaha mereka (net income naik) dan yang kedua berkaitan dengan sasaran program IDT yang lebih ditujukan pada penduduk yang benar-benar miskin. Hal ini dapat dilihat pada nilai Coverage of Target Group (TAR) sebesar 0,802, yang berarti bahwa  penduduk miskin yang menjadi sasaran program adalah sebesar 80,20%. Nilai indikator peningkatan pendapatan yang besar menunjukan bahwa program tersebut bermanfaat besar bagi penerima. Selain itu nilai ini juga menunjukkan adanya ketepatan sasaran (target) dalam penyaluran program.

Perhitungan data untuk Program Pengembangan Kecamatan (PPK) menghasilkan nilai income indicator sebesar 0,11 yang menunjukkan adanya peningkatan pendapatan peserta PPK sebesar 11%. Nilai coverage of target group sebesar 0,71 menunjukkan adanya peserta program yang dikategorikan tidak miskin sebesar 0,29 (29%). Pengkategorian ini dilakukan dengan membandingkan tingkat pendapatan peserta program dengan garis kemiskinan propinsi D.I. Yogyakarta.

Perhitungan data pelaksanaan program P2KP menghasilkan nilai income indicator sebesar minus 0,11%. Hal ini menggambarkan adanya penurunan pendapatan rumah tangga peserta program setelah mengikuti program sebesar 11%. Berdasarkan analisis peserta program, kondisi ini karena ada pendapatan yang hilang (pensiun), peralihan usaha yang menghasilkan pendapatan lebih rendah atau berkurangnya pendapatan dari sumber lain (anggota rumah tangga). Selain itu yang lebih penting adalah sasaran program P2KP yang tidak hanya ditujukan untuk penduduk miskin. Dari data yang ditemukan diketahui bahwa nilai coverage target groupnya hanya sebesar 0,20. Artinya peserta program yang dikategorikan miskin hanya sebesar 20% (80% tidak miskin). Dengan kata lain dari 10 peserta program yang sebelum ikut program termasuk miskin hanyalah 2 orang. Dalam penelitian ini ditemukan pendapatan peserta program P2KP sebelum mengikuti program di atas Rp 12 juta per tahun sebanyak 70%. Ada yang mempunyai pendapatan sebesar Rp 66 juta dan Rp 189 juta per tahun Data ini menggambarkan tidak adanya ketegasan pengurus program (sense of priority dan sense of  poverty), karena keikutsertaan program lebih dititikberatkan pada mereka yang berpotensi mengembalikan. Nilai income indicator yang rendah, bahkan minus, juga menunjukkan bahwa program tersebut tidak signifikan (berguna rendah) bagi penerima program.

Berdasarkan perhitungan secara keseluruhan pelaksanaan program kerja mandiri (self-employment programme) menghasilkan income indicator sebesar 0,3233. Nilai ini menunjukkan terjadinya kenaikan pendapatan rumahtangga secara umum dari responden sampel sebesar 32,33%. Secara agregat juga dapat disampaikan bahwa sasaran program (coverage target group) dari responden sampel adalah sebesar 0,571 (57,1%).

  1. Pengurangan Kemiskinan

Indikator ini digunakan untuk mengukur persentase perubahan jumlah penduduk miskin yang menjadi peserta program. Perhitungan dilakukan dengan membandingkan jumlah penduduk miskin sebelum program dan jumlah penduduk miskin sesudah program. Berdasarkan perhitungan responden sampel diperoleh data pengurangan kemiskinan sebagai berikut :

Tabel 2. Pengurungan Kemiskinan

Nilai poverty reduction peserta program Inpres Desa Tertinggal adalah sebesar 0,150, yang berarti ada penurunan jumlah penduduk miskin setelah dilaksanakan program IDT sebesar 15%. Jumlah peserta program yang tergolong miskin pada tahun dasar (1994) adalah sebesar 55,6%, nilai ini turun menjadi sebesar 47,2% pada tahun sekarang (2002). Terjadinya krisis moneter pada tahun 1997 telah menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk miskin pada tahun tersebut, karena menurunnya pendapatan penduduk miskin sehingga daya belinya menurun. Perhitungan data peserta program Pengembangan Kecamatan menghasilkan penurunan jumlah penduduk miskin peserta program sebesar 0,134 atau 13,4% setelah program PPK pada tahun 2001/2002.

Penurunan yang cukup besar ini mempunyai dua arti, pertama, terjadi peningkatan pendapatan setelah adanya program, kedua, karena jumlah peserta program yang tergolong miskin kecil (program tidak tepat sasaran). Sehingga ukuran ini bisa menyesatkan jika tidak dicermati proporsi penduduk miskin yang mengikuti program. Dalam data sampel program P2KP penurunan sebesar 50% terjadi karena jumlah penduduk miskin peserta program kecil (20%) sehingga perubahannya (pengurangan) sangat signifikan. Oleh karena itu keterkaitan antara pengurangan kemiskinan dan ketepatan sasaran program perlu dilakukan supaya hasilnya lebih proporsional. Secara keseluruhan dihasilkan data pengurangan kemiskinan sebesar 0,261 atau sebanyak 26,1%.

  1. Efisiensi Penyaluran Program

Indikator efisiensi penyaluran program digunakan untuk menjelaskan perbandingan antara tingkat manfaat dan biaya yang diukur dengan tambahan pendapatan bersih (net additional income) dan investasi kredit dalam pengeluaran total.

Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat efisiensi program IDT adalah sebesar 1,08 atau senilai 108%. Angka ini menunjukkan tingginya tingkat pendapatan usaha bersih dalam program tersebu. Perhitungan data program PPK dan P2KP menghasilkan nilai efisiensi penyaluran program masing-masing sebesar 2.20 dan 2,532. Hasil ini menunjukkan sangat tingginya nilai pendapatan usaha bersih dari peserta kedua program tersebut. Ini karena jenis usaha yang relatif menguntungkan dan skala usaha mereka yang relatif besar dan luas. Ditemukan juga fakta bahwa nilai penjualan usaha (omset) peserta program sangat besar dan nilai pinjaman usaha mereka menjadi tidak signifikan. Selain itu ada kecenderungan dana pinjaman tidak digunakan untuk usaha, selain karena digunakan untuk kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan dan sebagainya, juga karena tingkat usaha mereka yang sudah besar, sehingga pinjaman yang kecil tidak begitu berarti.

  1. Kelangsungan Dana

Kelangsungan dana (financial viability) adalah indikator penting dari program penanggulangan kemiskinan karena ketersediaan dana untuk membiayai program terbatas. Jumlah pinjaman yang dikembalikan adalah variabel utama untuk menunjang ketersediaan dana program. Pertimbangan lainnya adalah bahwa pemerintah mendapatkan penerimaan dari peserta program tersebut. Peserta program juga dikenai kewajiban untuk membayar pajak, baik secara langsung maupun dari pajak pembelian barang yang mereka lakukan. Dalam penelitian ini digunakan nilai perbandingan antara pajak tidak langsung dan produk domestik bruto (GDP ) sebagai ukuran koefisien pajak.

Selain itu ditemui juga pinjaman IDT yang hanya perlu dibayar bunganya per bulan dengan nilai kecil, sehingga pada akhir tahun perhitungan nilainya lebih kecil dari pinjaman awal. Fakta yang ditemukan dari data sampel menunjukkan bahwa program IDT di propinsi DIY sampai saat ini masih berjalan dengan baik. Kelompok Masyarakat (pokmas) yang terbentuk masih beroperasi dengan jenis usaha yang disepakati anggota kelompok, seperti simpan pinjam atau pemeliharaan ternak kambing. Dana pemerintah sudah digulirkan untuk program lain (seperti PPK) sehingga untuk program IDT sumber dananya berasal dari anggota masing-masing kelompok masyarakat (pokmas).

Data responden sampel peserta program PPK dan program P2KP menunjukkan hasil yang lebih besar dibanding IDT, yaitu masing-masing program sebesar 0,851 dan 0,989. Hal ini terkait dengan kondisi ekonomi peserta program PPK dan P2KP yang mempunyai pendapatan yang lebih besar dan tidak mempunyai pinjaman dari sumber lain, sehingga persentase nilai pinjaman mereka kecil. Karena jumlah pendapatan usaha bersih dari program P2KP lebih besar maka nilai kelangsungan dana (financial viability) lebih tinggi. Fenomena yang ditemukan dari sampel adalah adanya  pembiasan sasaran peserta program P2KP. Dari semula program ini ditujukan bagi penduduk miskin, namun dengan pertimbangan agar terjadi kesulitan dalam program, dana “dialihkan” pada penduduk yang berpotensi mengembalikan, walaupun sebenarnya belum terbukti apakah “etos ngemplang” penduduk miskin lebih tinggi dari penduduk tidak miskin. Keadaan ini justru  melemahkan usaha pengelola program untuk berkonsentrasi pada upaya menanggulangi kemiskinan di wilayahnya.  Secara keseluruhan hasil perhitungan data agregat menghasilkan nilai financial viability untuk program kerja mandiri sebesar 0,884.

Hasil perhitungan masing-masing indikator dapat digunakan .untuk menyusun skor setiap indikator dari setiap program dan skor secara keseluruhan dari program kerja mandiri. Perhitungan skor dilakukan dengan memberikan bobot yang berbeda untuk masing-masing indicator.

  1. Program Padat Karya

Indikator yang digunakan dalam program padat karya sama dengan program kerja mandiri yaitu, indikator peningkatan pendapatan (income indicator), pengurangan kemiskinan (poverty reduction), efisiensi penyaluran program (Efficiency in program delivery), dan indicator kelangsungan dana (financial viability).

  1. E. Kesimpulan

konsep manfaat program yang lebih dikedepankan adalah manfaat yang diterima individu dari program penanggulangan kemiskinan. Di Indonesia pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan selalu melibatkan partisipasi masyarakat dengan pembentukan kelompok-kelompok. Hal ini sesuai dengan misi pemberdayaan individu, kelompok dan masyarakat dan sistem nilai yang berkembang di masyarakat, yaitu kebersamaan (kolektivisme), solidaritas kelompok dan kegotongroyongan. Indikator yang menunjukkan kemajuan dan prestasi kelompok dan masyarakat dalam kaitannya dengan program penanggulangan kemiskinan perlu diperhatikan. Kemajuan ini dapat dalam bentuk pembangunan fisik, ekonomi, sosial, maupun budaya masyarakat lokal  Karena seringkali kepentingan masyarakat lebih diutamakan, seperti halnya dalam program padat karya (pembangunan fasilitas umum), perlu diperhatikan juga apakah kemajuan yang dirasakan kelompok dan masyarakat sudah dirasakan juga oleh individu. Temuan dari penelitian juga menunjukkan adanya sistem nilai masyarakat lokal yang terkait dalam distribusi pinjaman. Pada umumnya karena kehidupan sosial ekonomi masyarakat pedesaan cukup merata maka pinjaman dibagi secara merata dan adil (dum-dil).

Dalam penelitian proyek padat karya  hanya diamati manfaat yang diterima peserta program. Dalam kenyataannya hasil proyek tersebut dirasakan oleh banyak warga masyarakat, sehingga perlu diperhitungkan juga seberapa besar manfaat baik langsung maupun tidak langsung dari proyek yang dibangun, termasuk juga biaya secara langsung dan biaya tidak langsungnya. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan evaluasi proyek secara lebih mendalam dengan memasukkan variabel terkait. Sistem nilai sosial yang kondusif bagi pelaksanaan program padat karya juga bisa dijadikan sebagai indikator keberhasilan program padat karya dalam pembangunan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

BPS. 1997; 2001. Statistik Indonesia. Badan Pusat Statistik, Jakarta

Badan Pusat Statistik,  2003. Penduduk Miskin (PoorPopulation). Berita Resmi Statistis Penduduk Miskin No.04/Th.II/July, Jakarta:CBS.

Dasril, A.S. 1993. Pertumbuhan dan Perubahan Struktur Produksi Sektor Pertanan dalam Industrialisasi di Inonesia, 1971-1990. Disertasi Doktor, Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Erwidodo. 1995. Transformasi Struktural dan Industrialisasi Pertanian di Indonesia. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor.

Hayami, Y. dan V.W. Ruttan. 1991. Agricultural Development: An International Perspective. The Johns Hopkins University Press, Baltimore and London.

Iskandar, I. 1993. Transfromasi Perekonomian Sumatera Barat: Suatu Analisis Struktutal (1969-1990). Thesis, Pendidikan Pascasarjana KPK IPB-UNAND, Universitas Andalas, Padang.

Maskun, Sumitro, 1997 Pembangunan Masyarakat Desa, Asas, Kebijaksanaan, dan Manajemen, Media Widya Mandala, Yogyakarta,

Nasikun, 1995, Kemiskinan di Indonesia Menurun, dalam  Perangkap Kemiskinan, Problem, dan Strategi Pengentasannya, (Bagong Suyanto, ed), Airlangga Univercity Press

Sukirno, S. 1985. Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah dan dasar Kebijaksanaan. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

Swasono dan Sulistyaningsih. 1993. Pengembangan Sumberdaya Manusia: Konsepsi Makro untuk Pelaksanaan di Indonesia. Izufa Gempita, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: